![]() |
| Foto: Pengurus NU Pematangsiantar |
liputan6online.com | SIANTAR- Nahdlatul Ulama (NU) resmi memasuki abad kedua sejak didirikan pada 31 Januari 1926. Momen ini bukan sekadar peringatan satu abad, melainkan transisi historis dari satu abad pengalaman menuju satu abad tanggung jawab baru.
NU berdiri menghadapi dua tekanan sejarah sekaligus: runtuhnya kekaisaran Turki Usmani dan penjajahan kolonialisme di dalam negeri. Para pendiri NU membaca sejarah dengan kejernihan, memahami bahwa khilafah telah berakhir sebagai sistem politik faktual, dan Islam harus dijaga sebagai sumber etika, ilmu, dan solidaritas sosial.
Prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah menjadi strategi peradaban NU: menjaga tradisi dan menerima pembaruan. Kesadaran historis ini membuat NU mampu bertahan selama satu abad.
Tema peringatan 1 abad NU kali ini adalah "Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia". Menurut Ketua PCNU Kota Pematangsiantar, H. Maranaik Hasibuan, tema ini merupakan kelanjutan dari visi besar NU sejak awal berdiri, yakni membangun peradaban yang membawa manfaat luas.
"Merawat Jagat Membangun Peradaban" menjadi tagline PCNU Kota Pematangsiantar dalam perayaan 1 abad NU, karena NU didirikan dengan visi untuk membangun peradaban, bukan hanya untuk bangsa Indonesia saja, tapi juga untuk seluruh umat manusia.
(Budi Kurniawan)
