liputan6online.com | MEDAN- Sebagai tanaman yang bernilai ekonomi tinggi sekaligus bersejarah di Sumatera Timur sejak dibudidayakan secara masif tahun 1863, tembakau harus dipertahankan. Tembakau tidak boleh hilang begitu saja.
Pendapat ini mengemuka dalam diskusi soal tembakau Deli dalam gelaran Festival Revitalisasi Sejarah Tembakau Deli sebagai Warisan Dunia, yang berlangsung Sabtu (11/07) di Desa Klumpang Kebun.
Menurut Guru Besar Sejarah UNIMED, Prof.DR Phill Ichwan Azhari MS, sebagai salah satu pembicara dalam kegiatan tersebut, harus ada upaya maksimal termasuk oleh masyarakat perkebunan untuk terus mendorong agar tembakau terus dibudidayakan sebagai komoditas. "Akan sangat menarik jika masyarakat perkebunan juga mendorong berdirinya museum tembakau di Klumpang, sebagai wadah untuk melihat masa lalu tembakau oleh generasi mendatang," katanya.
Hal senada juga diungkapkan Mariadi, dan Yusdianto, dua pensiunan perkebunan negara yang puluhan tahun berada di lingkungan kebun tembakau.
Diakui Mariadi, memang tidak mudah untuk membudidayakan tembakau jika dibanding komoditas perkebunan lainnya seperti kelapa sawit atau tebu. Sebab tembakau memiliki kekhasan yang tidak dimiliki tanaman lain. Tembakau harus dirawat secara teliti sejak masih dalam bentuk kecambah sampai dipindahkan ke ladang yang sudah disiapkan lebih dulu. "Proses perawatannya saat tumbuh juga harus teliti sehingga bisa menghasilkan daun tembakau yang berkualitas tinggi saat daun tembakau dipanen di usia sekitar 42 hari," jelas Mariadi.
Diakui mantan Askep tanamqn tembakau ini, tantangan yang dihadapi untuk terus mempertahankan tanaman tembakau memang tidak mudah. Banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari iklim yang berubah, kondisi tanah, sampai lemahnya kemampuan orang-orang yang dipercaya untuk mengelola tembakau. Jika di era lalu, setidaknya bekas lahan tembakau di hutan kan dulu selama 10 tahun sebelum digunakan lagi. "Kalau sekarang begitu dihutankan langsung jadi sasaran penggarap untuk menguasai lahan yang dianggap ditelantarkan, sulit memang. Cukup besar tantangan yang dihadapi perusahaan perkebunan seperti PTPN. Regional," jelasnya.
Bahkan menurut Prof. DR Ichwan Azhari, salah seorang pembudidaya tembakau di Jember, Jawa Timur yang mantan karyawan PTPN II, sempat meramalkan di tahun 2017, bahwa 40 tahun ke depan tembakau Deli akan punah dan tidak ada lagi. "Kalau tidak dilakukan upaya upaya yang serius, saya yakin juga ramalan beliau akan terbukti," kata Ichwan Azhari.
Ichwan Azhari maupun Mariadi menyambut positif kegiatan Festival Revitalisasi Sejarah Tembakau Deli sebagai Warisan Dunia yang dilaksanakan di Desa Klumpang Kebun. Sebab lewat kegiatan yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui LPDP ini bisa menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan bagi keberlanjutan keberadaan tembakau Deli.
Di samping diskusi seputar tembakau Deli dan tantangan yang harus dihadapi ke depan kegiatan ini juga diisi dengan pemutaran film dokumenter sejarah tembakau Deli, pameran foto-foto yang berkaitan dengan perkebunan, serta atraksi kesenian khas perkebunan tembakau yakni Jaran Kepang. Kesenian khas masyarakat Jawa ini sangat berkaitan dengan munculnya kantong-kantong permukiman masyarakat Jawa di lingkungan perkebunan tembakau, seperti Helvetia, Klambir Lima, Klumpang, Sentris, Sampali sampai Bulu China. Daerah daerah ini adalah kantong-kantong perkebunan penghasil tembakau yang sangat dibanggakan para pengusaha perkebunan Eropah di era Kolonial karena tembakau yang dihasilkannya cukup berkualitas sehingga berharga sangat tinggi di pasar lelang Eropah seperti di Jerman.
"Mudah-mudahan lewat Festival Revitalisasi Sejarah Tembakau Deli sebagai Warisan Dunia, akan meninggalkan jejak positif bagi upaya yang lebih serius ke depan. Apalagi saat ini Perusahan Perkebunan sudah mampu melakukan transformasi dengan melakukan hilirisasi tembakau menjadi produk cerutu, jadi tidak sekadar menjual bahan baku untuk menjadi bahan olahan daun tembakau," ujar Prof DR Ichwa Azhari.(Noi)
